Ciptakan Ketahanan Pangan, Kepala DKPP Kotabaru Cetus Program CETAR

KOTABARU, klikkalsel.com – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kotabaru, Sarawani mendorong percepatan ekstensifikasi lahan sawah melalui program Cetak Sawah Rakyat (CETAR).

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan penurunan produksi padi, alih fungsi lahan, keterbatasan infrastruktur pertanian dan perubahan iklim.

Sarawani mengatakan, persoalan pangan Kotabaru tidak cukup diselesaikan hanya dengan mempertahankan lahan sawah yang ada.

Menurutnya, pemerintah daerah harus mulai menyiapkan tambahan lahan pertanian produktif sekaligus memastikan sawah yang dibuka benar-benar dapat dimanfaatkan petani.

“Kita tidak bisa hanya mempertahankan sawah yang ada. Kita juga harus berani mencetak sawah baru, tetapi harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan berbasis data,” tegas Sarawani, Rabu (23/9/2026).

Ia menjelaskan, produksi padi Kotabaru dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian.

Produksi padi tercatat 34.709 ton pada 2020 dan meningkat menjadi 38.497 ton pada 2021. Namun, produksinya kemudian turun menjadi 24.025 ton pada 2022 dan 17.299 ton pada 2023. Pada 2024 produksi kembali meningkat menjadi 19.926 ton.

Bagi Sarawani, angka tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan pertanian Kotabaru menghadapi persoalan struktural.

Tidak hanya menyangkut luas lahan, tetapi juga ketersediaan air, jaringan irigasi, jalan usaha tani, sarana produksi, alat mesin pertanian hingga regenerasi petani.

“Angka produksi ini harus kita baca sebagai sebuah peringatan. Kita tidak boleh puas hanya karena produksi kembali naik. Yang harus kita bangun adalah sistem pertanian yang mampu menjaga produksi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Karena itu, CETAR yang dirancang DKPP tidak diarahkan sekadar mengejar jumlah hektare sawah baru.

Setiap calon lokasi, kata dia, harus melalui proses identifikasi dan verifikasi. Aspek kesesuaian lahan, sumber air, status lahan, aksesibilitas, calon petani hingga kebutuhan sarana produksi harus diperhitungkan.

“Jangan sampai sawahnya sudah dicetak, tetapi tidak bisa ditanami karena tidak ada air atau petaninya. Satu hektare sawah yang produktif jauh lebih berarti daripada hektare yang hanya tercatat di atas kertas,” katanya.

Dalam rancangan program CETAR, pengembangan jangka menengah diarahkan pada pencetakan sawah sekitar 250 hingga 500 hektare di lokasi prioritas.

Sementara dalam jangka panjang, pengembangan ditargetkan dapat mencapai sekitar 1.500 hingga 3.000 hektare.

Namun, Sara.wani menegaskan keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dicetak.

“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa hektare yang dicetak. Tetapi berapa hektare yang benar-benar ditanami, berapa produksi yang dihasilkan dan apakah pendapatan petani meningkat,” jelasnya.

Untuk mencapai target tersebut, DKPP mendorong kolaborasi lintas sektor. Mulai dari TNI melalui Kodim 1004, BPN, Dinas PUPR, Bappeda, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, penyuluh pertanian hingga kelompok tani dan Gapoktan.

Menurut Sarawani, persoalan pertanian tidak bisa diselesaikan satu perangkat daerah.

“CETAR bukan pekerjaan DKPP sendiri. Ini pekerjaan bersama. Ada aspek lahan, legalitas, infrastruktur, air, petani, teknologi dan anggaran yang semuanya membutuhkan kolaborasi,” tuturnya.

Selain membuka lahan baru, pemerintah juga akan memperkuat pendampingan kepada petani.

Benih, pupuk, alsintan, penyuluhan dan penguatan kelembagaan kelompok tani menjadi bagian yang harus berjalan bersamaan dengan pencetakan sawah.

Sarwani juga menyoroti regenerasi petani. Menurutnya, pertanian harus mampu menjadi sektor yang menarik bagi generasi muda.

“Kalau kita ingin ketahanan pangan sampai 10 atau 20 tahun ke depan, kita harus menyiapkan petaninya mulai sekarang. Anak muda harus melihat pertanian sebagai usaha yang menjanjikan, bukan pekerjaan yang tertinggal,” katanya.

Karena itu, teknologi dan mekanisasi dinilai penting untuk mengubah wajah pertanian Kotabaru.

Penggunaan pemetaan spasial, teknologi informasi, alat mesin pertanian, pengolahan hasil dan pemasaran digital perlu diperkuat agar sektor pertanian semakin efisien dan memiliki nilai tambah.

Di sisi lain, Sarwani menegaskan sawah yang telah berhasil dicetak juga harus mendapat perlindungan agar tidak kembali beralih fungsi.

“Jangan sampai hari ini kita bersusah payah mencetak sawah, kemudian beberapa tahun ke depan lahannya kembali beralih fungsi. Sawah baru harus kita jaga dan diarahkan menjadi bagian dari perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap CETAR tidak berhenti sebagai proyek perubahan, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan dalam pembangunan pertanian Kotabaru.

“Swasembada pangan tidak lahir dari slogan. Harus ada lahannya, ada petaninya, ada airnya, ada infrastrukturnya dan ada produksi yang berkelanjutan. CETAR bukan hanya mencetak sawah, tetapi mencetak masa depan pangan Kotabaru,” pungkas Sarawani.(adv/restu)