MARABAHAN, klikkalsel.com – Banjir yang merendam Desa Puntik Luar, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola), telah berlangsung selama 12 hari. Warga menyatakan belum ada pemantauan maupun penyaluran bantuan dari Pemerintah Kabupaten, hingga Minggu (11/1/2026).
Pembakal Desa Puntik Luar, Syarifullah menyampaikan, banjir yang terjadi semakin menyulitkan kehidupan warga. Ketinggian air kini mencapai lutut orang dewasa, bahkan di beberapa titik seperti dekat kantor desa sudah setinggi pinggang orang dewasa.
“Air sempat turun sedikit sekitar satu jari, tapi naik lagi dua sampai tiga jari setiap hari. Sudah 12 hari kondisi ini kami hadapi, tapi belum ada perhatian dari Pemkab Barito Kuala,” ujar Syarifullah, saat dihubungi klikkalsel.com
Akibat genangan air yang tak kunjung surut, aktivitas warga lumpuh total. Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani tidak dapat mengolah sawah maupun menyiapkan benih padi. Kondisi ini berdampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga.
“Usaha warga benar-benar berhenti. Untuk menghidupi benih padi saja tidak bisa. Kalau nanti air surut, warga sangat berharap ada bantuan bibit pertanian dari pemerintah,” katanya.
Banjir juga berdampak pada sektor pendidikan. Sejumlah sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena ruang kelas terendam air. Madrasah Raudhatul Salam RT 006 terendam air setinggi sekitar 15 sentimeter, sementara SDN Puntik Luar 1 terendam 5 sentimeter.
Tak hanya itu, masalah kesehatan mulai muncul di tengah warga. Sejumlah warga dilaporkan terserang kutu air akibat terlalu lama beraktivitas di genangan air. Kebutuhan obat-obatan kini menjadi salah satu hal paling mendesak.
“Warga sangat membutuhkan obat-obatan, terutama untuk penyakit kulit. Selain itu, kami juga butuh bantuan logistik seperti mie instan, telur, atau bahan pokok seadanya untuk bertahan hidup,” jelas Syarifullah.
Baca Juga : Serap Aspirasi Warga, Bambang Heri Purnama Juga Serahkan Bantuan Banjir di Kabupaten Banjar
Baca Juga : Sepekan Terendam Banjir, Sejumlah Sekolah di Batola Terapkan BDR
Sebagai langkah darurat, pemerintah desa bersama warga berencana membuka posko bantuan secara mandiri di jalan utama Banjarmasin – Marabahan tepatnya depan perumahan atau Komplek Mahatama, yang berada di dataran lebih tinggi.
Posko ini diharapkan dapat menjadi pusat distribusi bantuan sekaligus tempat pengungsian sementara bagi warga terdampak.
Berdasarkan laporan sementara para ketua RT di Desa Puntik Luar hingga Minggu (11/1/2026) pukul 06.47 WITA, banjir telah berdampak pada 300 rumah, 349 kepala keluarga, dan 925 jiwa, termasuk 14 ibu hamil dan sekitar 70 balita.
Rata-rata ketinggian air di dalam rumah mencapai 20 sentimeter, sementara genangan di jalan lingkungan sepanjang 4.760 meter dengan ketinggian air rata-rata 30 sentimeter, bahkan mencapai 60 sentimeter di beberapa titik.
Bahkan, pihaknya sepat ingin menggunakan dana tanggap darurat. Namun terkendala pengajuan belum disetujui untuk tahun 2026.
“Karena ini harus ada pengajuan dan bermacam macam syarat baru bisa diambil atau ditarik,” imbuhnya.
Andaikan dana tersebut bisa digunakan, pihaknya sudah pasti akan menggunakan dana tersebut yang kurang lebih diajukan sekitar Rp 15 juta.
“Dengan harapan bisa mengurangi beban warga,” tuturnya.
Bahkan pihaknya sudah beberapa kali melakukan rapat internal agar bisa mengatasi masalah ini.
“Semoga ada perhatian dari pemerintah agar segera turun tangan,” pungkasnya. (airlangga)
Editor: Abadi





