MARTAPURA, klikkalsel.com – Mengawali tahun 2026, banjir meluas di wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel). Perkembangan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel per Kamis (1/1/2026), genangan air telah melumpuhkan aktivitas di 10 kecamatan yang mencakup 124 desa.
Dampak banjir yang melanda Kabupaten Banjar kali ini terbilang masif. Tercatat sebanyak 91.580 jiwa dari 34.138 Kepala Keluarga (KK) merasakan dampak langsung dari luapan air ini.
“Dari segi infrastruktur hunian, sebanyak 22.867 rumah terdampak, di mana 6.770 rumah di antaranya dilaporkan terendam air cukup tinggi sehingga tidak layak huni sementara waktu,” ucap Plt Kepala BPBD Kalsel, Gusti Yanuat Rufai, Jumat (2/12/2025).
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam, terutama bagi kelompok masyarakat rentan. Berdasarkan pendataan lapangan, terdapat ribuan warga yang membutuhkan penanganan prioritas, meliputi 2.511 lansia, 233 ibu hamil, dan 255 penyandang disabilitas.
Selain itu, anak-anak juga menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan rincian 411 bayi, 1.096 balita, dan 1.600 anak-anak yang kini berada di tengah situasi darurat.
Baca Juga : Operasikan Dapur Umum Banjir, Dinsos Kalsel Butuh Tambahan Relawan
Baca Juga : Banjir di Sungai Rangas Hambuku dan Desa Sungai Rangas Ulu, Warga Berharap Bantuan Dibagikan Merata
Akibat tingginya debit air, sebanyak 4.163 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi. Pola pengungsian warga terbagi menjadi dua, menempati fasilitas umum yang disediakan pemerintah dan menumpang di rumah kerabat yang berada di dataran lebih tinggi.
Konsentrasi pengungsi terbesar terpantau berada di kawasan Martapura/Murung Kenanga, di mana sekitar 2.250 warga bertahan di tempat-tempat aman atau rumah keluarga.
Sementara itu, Kepala BPBD Kalsel Gusti Yanuar Rifai mengatakan, fasilitas pemerintah juga telah diaktifkan sebagai posko. Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar kini menampung 120 jiwa, Kodim 1006 Banjar menampung 17 jiwa, dan Gedung UGD Eks Puskesmas Sungai Tabuk 1 menampung 104 jiwa.
Sebagian warga lainnya memilih mengamankan diri secara mandiri. Di kawasan Pasayangan Barat, 381 jiwa mengungsi ke rumah yang lebih tinggi.
Fenomena serupa terlihat di Tunggul Irang dan Kelurahan Keraton, di mana ratusan warga memilih tinggal sementara di rumah keluarga masing-masing. Bahkan, dilaporkan sebanyak 39 jiwa terpaksa berlindung di ruko-ruko sepanjang jalan Bypass Sei. Ulin-Mataraman.
“Pemerintah daerah bersama BPBD dan relawan terus melakukan pemantauan intensif dan pendataan lanjutan, mengingat cuaca yang masih dinamis dan potensi debit air yang bisa berubah sewaktu-waktu,” pungkasnya. (rizqon)
Editor: Abadi





