Mengenal Kapidaraan dan Cara Menyembuhkannya

Mengenal Kapidaraan dan Cara Menyembuhkannya
ilustrasi Bapidara. (foto : unplas/klikkalsel)

BANJARMASIN, klikkalsel.com – Anak itu terus saja menangis walau berada dipangkuan ibunya. Tangisannya melengking, badannya demam panas namun kaki, tangan dan telinganya dingin.

Dihadapan anak kecil itu, duduk seorang wanita paruh baya. Usianya sekitar 60 tahun. Terlihat dari bibir wanita tua itu, sedang mengunyah sesuatu, sementara tangannya memarut kunyit atau yang dalam bahasa banjar dikenal dengan nama janar.

Parutan janar tadi ditampung pada sebuah mangkuk kecil yang kemudian dicampur dengan sedikit beras dan kapur sirih. Sejurus kemudian, parapin (tungku kecil berisi arang) dinyalakan.

Setelah bara menyala, diatasnya ditaburkan dupa. Seketika harum dupa menyeruak ke ruangan kecil berukuran dua kali tiga meter.

Setelah itu tangan si nenek kembali mencampur janar, beras dan kapur sirih dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih parang kecil yang sedari tadi tergeletak disampingnya.

Setelah bahan tercampur, janar diperas. Ajaib, mungkin itulah yang dapat diungkapkan. Perasan itu mengeluarkan air yang cukup banyak untuk ukuran sebongkah kecil janar.

“Iya ae nah, anak ikam ne kepidaraan (Iya, anak kamu memang kepidaraan),” ujar si nenek.

Baca Juga : Allah Menyuruh Berlaku Adil

Sementara, ibu si anak mengangguk-angguk sambil berupaya menenangkan anak mereka yang terus saja menangis.

Parang kecil yang tadi diraihnya dengan tangan kiri, dirabung (diasapi) di atas parapin yang mengepulkan asap dupa. Harum, namun bernuansa magis.

Kemudian parang tadi diputarkan diatas kepala si anak yang diyakini kepidaraan tadi sembari mulut si nenek terus berkomat kamit.

Selanjutnya, ubun-ubun sang anak yang terus saja menangis sambil sesekali meronta itu, ditaburi beras  yang sudah berubah warna menjadi kuning, akibat tadi dicampur dengan parutan Janar.

Baca Selengkapnya di Halaman Selanjutnya :

Tinggalkan Balasan